Interview Paul Agusta di Pikiran Rakyat 17 Juli 2008

Paul Agusta, Film Bagus tak Harus Mahal

KITA mungkin senang memerhatikan perkembangan industri film Indonesia kini. Semakin hari semakin muncul rasa menghargai dan berbangga atas karya anak negeri. Akan tetapi, perasaan waswas pun timbul ketika kebangkitan itu didomplengi segelintir pihak yang sekadar memanfaatkan kesempatan, dengan menjajakan film yang boleh dibilang tidak layak tonton. Bahkan, dengan biaya produksi besar pun tidak menjamin kualitasnya.

Bagi filmmaker Paul Agusta, membuat film tidak perlu mahal, jika tahu caranya. Lulusan jurusan film dari Arizona State University ini berpandangan bahwa kebanyakan film Indonesia yang kini beredar --dengan biaya produksi hingga bermiliar rupiah, belum memiliki cerita dasar yang matang. "Untuk apa menghabiskan uang sebanyak itu, kalau hanya menghasilkan film berkualitas mediocre?", kata Paul, saat berbicara dalam diskusi screening film-nya berjudul "Kado Hari Jadi" di Galeri Soemardja ITB Kota Bandung, Sabtu (12/7).

Di kalangan pegiat karya sinema, namanya mungkin tidak asing lagi. Paul telah mencipta belasan film pendek dan video art. Sebelum tahun 2007, Paul sempat memegang posisi kurator film di Komunitas Utan Kayu, Jakarta. Ia juga rutin menulis kritik mengenai film. Kini, ia memilih berkonsentrasi membuat film, sembari menekuni profesi translator dan kolomnis tentang musik dalam rubrik "Underground Hum" di harian berbahasa Inggris, The Jakarta Post.

"Kado Hari Jadi" ialah film panjang pertamanya ber-genre thriller di bawah bendera HouseofWaves (HofW) Productions, yang diputar di beberapa kota di Indonesia dan akan turut dikirim ke beberapa festival film dunia. Alih-alih menyajikan hantu seperti kebanyakan film thriller dan horor di pasaran, film ini menonjolkan jiwa manusia yang bisa jadi lebih mengerikan. Berikut obrolan lebih lanjut Kampus dengan Lelaki kelahiran 1 September 1980 ini.

Biasanya membuat film pendek, sekarang film panjang. Kenapa?

Sebenarnya semua filmmaker pendek, pasti mimpinya suatu hari bisa bikin film panjang. Bagi filmmaker, film panjang itu puncak ekspresi paling besar filmmaking. Itu adalah langkah yang logis. Film pendek cenderung terbatas atas apa yang ingin diceritakan. Dalam diskusi awal antara saya dan Dalih yang menulis skenario, awalnya ini adalah film pendek. Tetapi setelah karakternya dikembangkan, ternyata ini enggak mungkin film pendek karena akan terlalu padat dan maksa. Jadi, yuk, gila-gilaan bikin film panjang. Duit gampanglah nyarinya, padahal sih enggak gampang juga (tertawa).

Proses pembuatannya dari mulai ide awal sampai setelah "shooting"?

Ide awalnya waktu awal tahun 2007 lagi nongkrong-nongkrong di rumah saya. Habis nonton film "Hostel", terus kita berpikir lucu kali ya bikin film siksa. Tetapi, sesuatu yang eksploitatif itu, menjadi lebih dalam dan bermakna. Saya cenderung menyebutnya sebagai love story, sebab dasar semua cerita di sini adalah cinta. Kalau menyebut istilah agak baru, it’s a romantic thriller.

Pengerjaannya mulai dari Januari sampai Juni, tepatnya tanggal 5 Juni. Mengejar tanggal itu, because it’s my mother birthday. Beliau menyekolahkan saya ke sekolah film mahal-mahal, nih ada hasilnya (tertawa). Lalu berikutnya kita memikirkan cari uang. Perkiraan biaya awal kita adalah Rp 60 juta, dan itu pun sudah diketawain banyak orang. Mana mungkin bikin film panjang dengan segitu? Sempat juga mendekati beberapa orang untuk jadi produser, orang-orang itu bilang, ini enggak mungkin dibuat di bawah Rp 300 juta, yang paling rendah minimal Rp 100 juta. Pada akhirnya, kita bisa buat dengan biaya Rp 35,4 juta, dengan post-production dan promosi semuanya menjadi Rp 50 juta.

Alasan menjadi murah?

Lokasi shooting memakai lokasi milik talent-talent yang kita punya. Seperti rumah sakit, itu memakai apartemen saya. Pemikiran umum dalam membuat film kan, semuanya harus baru. Barang-barang tua pun dibeli baru, lalu dibikin tua. Sebenarnya kalau mau, kita bisa menekan biaya produksi, dengan mencari barang bekas, barang punya sendiri, bikin sendiri, apa pun. Kami benar-benar menggabungkan apa yang dipunyai, apa yang bisa dipinjam, terus yang lainnya yang terpaksa, baru deh beli. Kita melakukan fund raising, tetapi akhirnya kebanyakan uang patungan kita sendiri. Dan juga uang ibu saya. Katanya, ini bukan pinjaman tetapi investasi. Nanti filmnya laku, harus bayar balik, pakai kontrak resmi segala (tertawa).

Bisa cerita tentang HouseofWaves?

Ini kelompok baru, saya dan Dalih yang menginisiasi. Kita pikir, mari bikin kelompok film yang fokus pada pengembangan ide cerita yang bagus, dan pembuatan film yang friendly pada orang low budget. Di film saya sendiri, the reason why it’s cheap, because nobody got paid. Tapi semua orang dapat persentasi bagi hasil, dan semuanya mendapat potongan yang sama yaitu 2,5 %.

Perbedaan bikin "video art" dan film?

Film itu akarnya dari story telling alias bercerita secara naratif. Harus menceritakan sesuatu. Sedangkan video akarnya adalah seni rupa, lebih ke penyajian ide dan penyampaian perasaan dibandingkan sebuah cerita. Bedanya di situ. Kalau film lebih ke cerita, sedangkan video art lebih ke permainan ide visual, mood, dan perasaan.

Prinsip yang dipegang dalam membuat karya sinema?

Yang utama adalah perasaan. Saya ingin memainkan perasaan penonton, atau menyampaikan perasaan-perasaan saya. Mungkin karena saya cenderung berpikiran agak gelap, makanya karya-karya saya lebih banyak bernuansa gelap. Yang utama adalah konsep karya itu harus kuat, dan perasaan yang mendasari karya itu harus terasa. Itu termasuk eksplorasi kamera di film ini di mana goyang-goyang gitu, untuk membuat penonton sama tidak nyamannya dengan pemeran di film itu.

Membuat film "thriller", karena bosan dengan film sejenis yang beredar di bioskop?

Banget. Jujur saja, film-film horor atau thriller yang saya suka bukan film Hollywood. Banyak filmmaker Indonesia mengiblat Hollywood, kalau saya sendiri tidak suka. Film thriller yang saya suka adalah Eropa dan Jepang karena lebih membangun emosi dan ketegangan, daripada mengagetkan. Contohnya, adegan Sadako keluar dari TV di film "The Ring", itu kan adegannya pelan banget. Waktu saya nonton itu, saya duduk di kursi, ternyata pas sadar, ada bekas kuku saya tergaris di kursi. Dan saya ingin film yang tidak hanya menonjolkan keseraman atau kekerasan saja, tetapi juga alasan dan konsekuensinya.

Melihat industri film Indonesia kini seperti apa?

Fokus pembuatan film di Indonesia itu salah. Fokusnya adalah kualitas produksi. Saya dapat kesan bahwa peralatan mahal, atau produksi paling mahal itu keren. Padahal kalau dilihat, 80-90% dari film yang keluar itu jelek, karena ceritanya itu salah. Fokusnya harusnya tuh bukannya how cool it’s going to be to use this equipment, namun cek dulu naskahnya bolong apa atau tidak? Kalau naskahnya bagus, baru bangun dari situ. Mau menyewa kamera seharga Rp 10 miliar pun, kalau ide filmnya ngaco, ya filmnya juga ngaco. Tulang punggung film adalah cerita, sebab film adalah metode bercerita.

Mengapa melepas profesi kurator dan kritikus film?

Waktu itu, kerjaan lagi penuh banget. Saya menulis di Jakarta Post, kurator di Utan Kayu, dan Executive Director Jakarta Slingshort Film Festival. Terus pikir-pikir, saya sekolah film kayaknya bukan untuk milih-milih film, tetapi membuat film. Merasa tersendat secara kreatif, saya lepas semuanya dan fokus ke karya-karya saya.

Karena kritikus dan pembuat film harus berjarak?

Ya, memang tidak boleh disatukan. Sejak saya fokus membuat karya, banyak media-media mendekati saya untuk membuat tulisan dan sebagainya, namun jawaban saya selalu sama, it’s unethical to write about the filmmakers in my own country when I’m one of them. Kalau saya menulis negatif, nanti disangka menyingkirkan saingan. Menurut saya, pembuat film dan kritikus tidak boleh dilakukan pada saat bersamaan. Bukan berarti kedua profesi itu bermusuhan, tapi itu dua jalur yang berbeda.

Dari pengalaman menjadi kritikus, apakah "filmmaker" kita sudah cukup terbuka pada kritik?

Pengalaman saya menulis kritik film, masih banyak filmmaker yang belum terbuka pada kritik. Kalau saya menilai film, mendasarkan diri pada pengetahuan saya di bidang film. Pendekatannya pada akademis, dan juga rasa. Kalau buruk, ya bilang buruk. Beberapa orang bilang, jangan menjatuhkan film Indonesia dengan menjelek-jelekkan dong. Padahal, justru dengan mengritik itu sedang ikut membangkitkan film Indonesia. Beberapa yang tidak suka, malah jadi menggosipkan saya macam-macam. Misalnya, pernah ada yang bilang kalau saya tidak menyelesaikan film yang di-screening, namun berikutnya kritik film itu ditulis oleh saya dan terbit. Padahal, saya tidak pernah meninggalkan sebuah screening sampai film itu selesai kalau ingin menulis kritiknya. Di media-media massa terkemuka, praktis kritik film itu tidak jalan. Yang ada itu sekadar sinopsis. Padahal itu penting sebagai gerakan budaya. Ada baiknya kalau media-media besar setidaknya membuat ruang khusus untuk membahas film secara komprehensif. Saya sendiri suka kesal dengan jurnalis yang hanya menulis dari press release saja.

Sebagai penulis tentang "scene" musik "indie", bagaimana mengamati perkembangannya?

Istilah indie sendiri sudah overrated. Misalnya, tidak perlu disebutkan namanya, namun label-label yang disebut indie sekarang ini di Indonesia, cara kerjanya juga tidak jauh berbeda dengan mainstream. Band-bandnya sendiri berkembang bagus, sayangnya seringkali tidak mendapat ekspose dengan baik. Beberapa band indie yang naik ke permukaan sekarang, sebenarnya belum tentu mereka yang terbaik. Masih banyak sekali band-band yang bagus, sangat inovatif, eksploratif, namun tidak terlihat dan media tidak tertarik mencari dan menggalinya. ***

dewi irma
kampus_pr@yahoo.com

Comments :

0 komentar to “Interview Paul Agusta di Pikiran Rakyat 17 Juli 2008”
 

The Marshall Plan